Sunday, February 19, 2012

O Captain! My Captain! by Walt Whitman (1819-1892)




O Captain! my Captain! our fearful trip is done,
The ship has weather’d every rack, the prize we sought is won,
The port is near, the bells I hear, the people all exulting,
While follow eyes the steady keel, the vessel grim and daring;
But O heart! heart! heart!
O the bleeding drops of red,
Where on the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

O Captain! my Captain! rise up and hear the bells;
Rise up—for you the flag is flung—for you the bugle trills,
For you bouquets and ribbon’d wreaths—for you the shores a-crowding,
For you they call, the swaying mass, their eager faces turning;
Here Captain! dear father!
The arm beneath your head!
It is some dream that on the deck,
You’ve fallen cold and dead.

My Captain does not answer, his lips are pale and still,
My father does not feel my arm, he has no pulse nor will,
The ship is anchor’d safe and sound, its voyage closed and done,
From fearful trip the victor ship comes in with object won;
Exult O shores, and ring O bells!
But I with mournful tread,
Walk the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

~ good bye Lt. Commander Navy (R) Mat Seri Bin Mat Salleh. (1950-2012)

~po.

Wednesday, January 25, 2012

Petang Bersama Arwah Ayah

...

Dulu,
kalau nak makan roti canai,
arwah Ayah bawak aku naik motor pergi dekat sebelah Masjid.
Situ roti canai dia sedap
kuah kari dia terangkat

sekarang
Ayah dah tak ada...

Kadang-kadang juga dulu,
Ayah cuma tengok aje aku makan roti canai tu,
Ayah minum teh sambil hisap rokok tenung aku.
Aku tak tahu samada duit tak ada atau Ayah memang kenyang.

Dia menung memikirkan apa aku nak jadi bila besar nanti gamaknya...

Ayah dah tak ada...
Al-Fatehah buat Ayah.

~po

Monday, January 09, 2012

Tatkala tumpahnya airmatamu itu...

...

Anakku,
tatkala airmata kau tumpahkan
dari satu kegagalan
yang menyiat-nyiat perasaan

kamu mungkin tidak tahu
bahawa aku di satu sudut itu
bersyukur pada Yang Satu

kerana aku tahu
airmata yang tumpah itu
pernah dulu tumpah dari sudut mataku
dan semenjak itu
aku tidak lagi berpaling
lalu aku gagahi setiap jalan dan jurang
hinggalah berdiri di depanmu sekarang

anakku
airmatamu itu
membenihkan harapan
kepada kami yang tidak pernah berhenti
berdoa kepada Tuhan.

~po

Tuesday, January 03, 2012

Cahaya Amalina

...

tercalar
kaca yang dulunya
penuh cahaya
dek intan yang
kau sangkakan
menjadi perhiasan

dirimu yang kini
melihat dunia
dari pandangan sisi

dan dunia melihatmu
penuh sangsi

kalau masih bisa
mahu aku melambai kau kembali
kerana katamu
derita itu
pakaianmu setiap hari

derita kami juga
yang pernah mengaminkan doa
buatmu dulu...

~po

Monday, January 02, 2012

Di Tahun Baru Ini

...

sekadar
tiga ratus enam puluh lima hari
yang berlalu pergi

dan
tiga ratus enam puluh lima hari
yang baru

cukupkah
seribu lapan ratus dua puluh lima
mu itu?

~po

Tuesday, December 06, 2011

kudrat

...

aku tak punyai kudrat
tapi aku miliki semangat

dan puncak itu aku gagahi
seinci demi seinci

sehingga aku tiba ke puncak
dan semangat itu tak akan mati

~po

Monday, December 05, 2011

aku tak mampu

...

untuk aku
pindahkan segala sendu
yang terbuku
segala tentang kamu
di ruang sekecil itu

aku tak mampu...

geleng
aku tak mampu.

Lantas,
aku biarkan saja rasa itu bebas
berlari menerjah ke segenap arah

hingga aku lupa
segala derita.

lupa
segalanya.

~po